Masing - Masing
Pada akhirnya, nanti kita semua akan dibangkitkan sendiri. Tidak ada teman yang akan menemani. Dan pada akhirnya kita sendiri yang akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan yang telah kita lakukan selama kita di dunia.
Sebagai seorang muslim yang notabene adalah muslim turunan, yang aku tahu bahwa orangtuaku adalah seorang muslim beragama islam, maka akupun sebagai anaknya otomatis akan ikut beragama islam. Namun aku tidak tahu apa itu Islam. Yang aku tahu bahwa itu hanyalah sekedar agama.
seperti anak anak yang lain, pada saat SD aku juga ikut ikutan dengan yang lain untuk mengaji. kebetulan kedua abangku suka mengaji di musholla, maka aku ikut dengan kedua abangku untuk mengaji, tapi jangan tanya apakah aku serius mengajinya atau tidak. Karena setelah selesai menyetor bacaan " alif fata a, alif kasro i , alif doma u ...... a i u " maka aku akan berlari larian berkejar kejaran dengan teman lain. Bosan mengaji di Musholla, ikutan temanku yang lain mengaji di tempat lain, kita datang kerumah guru ngajinya. Teman temanku semua lancar membacanya, sementara aku karena tidak serius, akan sangat kesulitan jika aku harus membaca huruf arab dengan di sambung.
Hal tersebut berlanjut sampai aku SMP, Pelajaran agama adalah salah satu pelajaran yang kurang aku kusukai. Jangan tanya kenapa ? Ya itu tadi, membaca huruf arab saja saya gak bisa, bagaimana kalau pas ada pelajaran membaca Al-Quran ke depan kelas, bisa jatuh pingsan diriku karena membaca Bismillahir Rahmanir Rahim saja bisa satu jam sendiri. Sampai suatu ketika, guru agamaku menganjurkan agar aku belajar ngaji, di tempat pengajian gak jauh dari sekolah sepulang sekolah. Tapi bukan aku namanya kalau bisa bertahan lama belajar, hanya sekitar 3 x pertemuan aku tidak datang datang lagi.
Kelas 3 SMP, membaca Al - quran adalah salah satu ujian praktek yang harus aku lakukan. Sudah pusing rasanya diriku, bagaimana caranya agar aku bisa menghindar dari ujian ini. Hari itu aku duduk di bangku paling belakang, bersebelahan dengan teman lelakiku si Bagus. Satu persatu nama dipanggil sesuai absen, kebetulan namaku abjadnya paling belakang, jadi aku santai, karena pasti nanti belakangan sambil tetep nyoba belajar ngafalin yang mau di ujiankan. Namun ketika namaku di panggil, buyar semua yang sduah aku hafalkan, keringat dingin keluar. ketika namaku dipanggil untuk yang ke dua kali, kubisikan keteman sebelahku : "Gus, bilang ya gw kagak masuk " Dan takjubnya aku, itu temanku teriak dan bilang " Yani gak masuk Pak !" Selesai sudah.
Bersambung


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda