Selembaran berwarna merah
SELEMBARAN BERWARNA MERAH
Ehmmmmmm, pikiranku menerawang jauh . Ku hela nafasku dalam dalam. Betapa manusia memang serakah adanya. Sudah diberi rezeki yang berkecukupan bahkan lebih untuk ukuran orang banyak, masih saja difikirannya uang.... uang..... dan uang. Tidak masalah sih jika uang itu didapatnya dengan cara yang baik baik, tapi jika harus mengambil hak orang lain. Waduh.... serem, bulu kudukku merinding, membayangkan apa yang akan diterima oleh orang orang yang mau mengambil yang bukan menjadi haknya.
Aastaqhfirullah, bathinku mengucapkan istigfar berulang kali. Aku tahu, zaman sekarang, siapa sih yang gak butuh uang. Aku ? Kamu ? Mereka ? Semua pasti butuh, dan semua pasti mau. Seperti saat ini, betapa aku sangat berharap dengan rezeki, dari pagi hanya kudapati beberapa orang saja yang memakai jasaku. pekerjaanku sebagai OJOL saat ini sedang paceklik. Bagaimana tidak paceklik, munculnya virus corona kenegaraku ini, negara pak Gembus benar benar sudah membuat pontang panting berbagai pihak. Kami masyarakat diminta untuk mengisolasi diri, menjauh dari keramaian, menghindari berinteraksi dengan orang banyak, dengan harapan sang virus akan musnah karena tidak bersua dengan inang untuk tempatnya berkembang. Bagi mereka yang punya uang banyak gak jadi soal, tapi bagi sebagian atau bahkan kebanyakan rakyat jelata, bagaimana mungkin kami hanya akan berdiam dirumah. Jika setiap hari keluar rumah menembus belantara ibukota saja masih harus berkejar kejaran dengan kebutuhan susu anak, tunggakan kontrakan rumah , berkelit dengan si mata elang. Duh Gusti...... betapa petih rasanya saat ini.
Teringat rengekan anak tadi pagi. " Pak. Nurul harus kirim tugas pake wa, bapak isiin paket kuota HP mamak ya pak " rengeknya. Kulihat di saku celanaku, baru ada uang 45ribu, bagaimana mungkin bisa beli kuota, untuk makan hari ini saja masih kurang. Aku bersandar disebuah pohon sengon, menunggu kalau kalau ada orderan OJOL yang datang. masih berharap dapat memenuhi keinginan anaknya untuk membeli kuota. Tiba tiba mataku terpaku pada sebuah selembaran uang warna merah yang ada di pinggir jalan.



2 Komentar:
Saya belum buat posting yang ini.. waduh. Tergopoh-gopoh saya mengikuti tugasnya, dari sarastiana.com
sama pak sarastiana.com saya juga megap megap ini ngerjain tugasnya. apalagi basic saya bukan tipikal orang yang mudah menulis. butuh waktu untuk bisa menemukan mood nya.
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda