Rabu, 30 Juni 2021

KENANGAN YANG TERSISA DENGAN ALMARHUM AYAH

 

KENANGAN YANG TERSISA DENGAN ALMARHUM AYAH

 

Masih terbayang dibenakku, saat kau gendong aku dengan alas kaki seadanya, berjalan menapaki rel kereta, menuju kota berharap dapat berjumpa dengan mantri kesehatan. Tubuhku penuh dengan cacar atau entah apa namanya, akupun tak tahu, jijik orang jika melihat sekujur tubuhku, selain itu bau amis akan tercium jika terlalu dekat berada disekitarku. Bagimu aku tetaplah anakmu, tak peduli jijiknya orang melihatku, namun kau tetap merawatku, sendiri. Ya sendiri, karena ayahku telah pergi meninggalkan kami, aku yang saat itu baru berusia 4 tahun dan kakakku yang berusia 6 tahun harus menjadi yatim. Diusiaku yang baru 4 tahun kurang, tidak banyak memori yang tersimpan dikepalaku tentang ayahku. Satu satunya memori yang masih membekas sampai saat ini hanya ada satu. Ya hanya satu…

Waktu itu, kami berada di teras rumah, duduk di dipan.  Ayahku memetik buah pepaya yang berada di samping rumah. Ehmmm, buahnya mateng dipohon, sudah terbayang manisnya. Setelah memetik, disiapkan pisau dan piring untuk mengupas pepaya tersebut. Dikupasnya, lalu dipotong potong, namun aku perhatikan, ayahku makan buah pepaya itu bersama dengan bijinya.

“ Yah, kok bijinya dimakan ?” kataku.

“ Nanti kalau numbuh di perut gimana ? “ lanjutku dengan penuh rasa kuatir.

Dengan santainya ayahku menjawab “ Ya gak apa apa. Nanti kalau numbuh kan, pohonnya ada dikepala jadi pas berbuah gampang metiknya “.

Aku hanya bengong saja, sambil berkata :” Ooooooooo, gitu ya yah biar gampang nanti ngambil buahnya “.

Ehmmmm anak umur empat tahun, gak ngerti aku kalau biji bijian yang kemakan, akan ikut dilumatkan di dalam lambung. Pikirku asyik juga nanti kalau numbuh dikepala, kan gampang buat ambil buahnya.

Kembali keibuku, dengan kondisiku yang orang enggan untuk mendekat ibu tetap sabar merawatku, dibuatkan aku ramuan ntah itu ramuan apa, yang aku ingat hanya ibu memasak air kemudian di masukkan daun jeruk daun apa lagi aku lupa kemudian, di gunakan untuk memandikanku dengan ramuan itu. Sampai akhirnya Alhamdulillah akupun sembuh dari penyakit itu. Rasanya tak akan pernah bisa menggantikan apa yang telah ibu lakukan terhadapku.

Hingga akhirnya ada yang mau menikah dengan ibuku, Akupun akhirnya memiliki bapak baru. Bapakku bekerja di Jakarta, jadi mau tidak mau aku dan kakakku diboyong ke  Ibukota juga. Babak baru kehidupanku dimulai di Jakarta. Tempat yang asing, belum pernah sekalipun aku datang kekota ini. Aku harus beradaptasi dengan situasi yang baru. Selamat datang di Jakarta

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda