Minggu, 05 April 2020

GABUK





GABUK

“Ya Rabb, ajari hamba ikhlas menjalani takdir hamba” doaku dalam Bathin. Senang rasanya denger kabar, sahabatku, teman sejawatku akan melangsungkan pernikahan bulan depan. Pangeran impiannya telah datang menyutingnya awal bulan lalu. Mereka berdua dan keluarga besar tidak ingin berlama lama sehingga waktu antara lamaran dengan walimah hanya selang dua bulan saja. Meski kami beda usia yang cukup jauh, namun tidak menghalangi kami untuk bersahabat. Aku baginya adalah kakak, sementara kamu dimataku adalah adik. Semoga lancar acaranya ya Sister tulisku dipesan whatssapp untuknya.

Aku termenung, sedih rasanya. Bukan sedih mendengar sahabat sahabatku, rekan rekan kerjaku pada akhirnya menemukan tambatan hatinya. Hanya sering muncul lintasan dalam benakku, “ Mereka sekarang menikah, gak lama punya anak “ Rasa sesak menusuk didada jika mendengar teman teman kerja yang baru saja menikah setahun kemudian sudah menimang anak. Dan sering lintasan lintasan itu muncul menghantuiku. Sementara aku, 16 tahun usia pernikahanku, belum juga Alloh berikan keturunan.Julukan wanita mandul, gak sayang anak, gak pantas mendapat amanah dari Alloh, sering terlontar dari mulut mulut yang tidak mengerti perasaanku. Aku perempuan seperti perempuan yang lain. Aku juga ingin bisa merasakan seperti yang dirasakan perempuan perempuan lain. Hamil, melahirkan, merawat anak - anaknya sendiri adalah sebuah harapan dari semua perempuan yang ada dimuka bumi ini.

Pada saat acara keluarga. Ada salah satu kakak sepupu ibuku yang menegurku. “ Kamu mandul ya Ni, kok dah lama nikah gak hamil hamil juga “ katanya. Aku hanya tersenyum dan menjawab “ Belum dikasih Dhe, “ “ Mosok belum dikasih, udah lama nikahnya, berarti kamu mandul ….. kamu gabuk “ katanya lagi. Aku akhirnya menjauh setelah sebelumnya ku cium punggung tangannya sebagai tanda hormatku kepadanya. Sakit …. Sesak…. Jika saja aku tidak memikirkan saudara - saudaraku yang lain, ingin rasanya aku kabur , pergi. Tidak hanya sekali kalimat itu muncul, di pertemuan pertemuan lain pasti akan keluar kalimat yang menyakitkan itu. Kadang aku marah, marah kepada diriku sendiri. Kenapa aku tidak seperti perempuan perempuan lainnya, yang menikah langsung hamil dan punya anak. Kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini. Astghfirullah…. Astaghfirullah.. Bathinku berkecamuk, kenapa aku marah, kenapa aku harus kecewa, bukankah salah satu tanda keimanan seorang mukmin adalah menerima Qodha dan Qodhor. Mau aku kemanakan keimanan yang tinggal sedikit didada ini? bathinku bergejolak

“ Hei ….. Bengong aja kerjaannya !” “ Cepetan kalau  mau bantuin. “ Tegur Prapti yang menyadarkannku dari lamunan. Aku buru buru memfokuskan mengetik nama nama undangan yang akan kami sebar. Aku tersenyum mengingat kembali apa yang aku pikirkan tadi. Kutarik nafas dalam dalam dan kuhembuskan melalui mulut berlahan lahan. Aku belajar ikhlas ya Rabb bathinku. Kelegaan hadir menjalar didadaku. Lepas semua gelisah hati. Kupasrahakm semua kepada yang Sang Maha Pemberi. Pasti aka nada hikmah untuk diri.


By DwimulyaAlfath

2 Komentar:

Pada 7 April 2020 pukul 16.17 , Blogger Unknown mengatakan...

Masya Allah tulisannya bagus, ini justru menyentuh bagi yg di karuniakan anak utk lbh bersyukur dan tidak mwngeluh krn banyak yg mendambakan apa yg di berikan Allah SWT kepadanya, terima kasih.

 
Pada 7 April 2020 pukul 21.31 , Blogger YUYUN DWI MULYA mengatakan...

Terima kasih juga sudah mau membacanya

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda