GABUK
“Ya Rabb, ajari hamba ikhlas menjalani takdir hamba” doaku
dalam Bathin. Senang rasanya denger kabar, sahabatku, teman sejawatku akan
melangsungkan pernikahan bulan depan. Pangeran impiannya telah datang
menyutingnya awal bulan lalu. Mereka berdua dan keluarga besar tidak ingin
berlama lama sehingga waktu antara lamaran dengan walimah hanya selang dua
bulan saja. Meski kami beda usia yang cukup jauh, namun tidak menghalangi kami
untuk bersahabat. Aku baginya adalah kakak, sementara kamu dimataku adalah
adik. Semoga lancar acaranya ya Sister tulisku dipesan whatssapp untuknya.
Aku termenung, sedih rasanya. Bukan sedih mendengar sahabat
sahabatku, rekan rekan kerjaku pada akhirnya menemukan tambatan hatinya. Hanya
sering muncul lintasan dalam benakku, “ Mereka sekarang menikah, gak lama punya
anak “ Rasa sesak menusuk didada jika mendengar teman teman kerja yang baru
saja menikah setahun kemudian sudah menimang anak. Dan sering lintasan lintasan
itu muncul menghantuiku. Sementara aku, 16 tahun usia pernikahanku, belum juga
Alloh berikan keturunan.Julukan wanita mandul, gak sayang anak, gak pantas mendapat
amanah dari Alloh, sering terlontar dari mulut mulut yang tidak mengerti
perasaanku. Aku perempuan seperti perempuan yang lain. Aku juga ingin bisa
merasakan seperti yang dirasakan perempuan perempuan lain. Hamil, melahirkan,
merawat anak - anaknya sendiri adalah sebuah harapan dari semua perempuan yang
ada dimuka bumi ini.
Pada saat acara keluarga. Ada salah satu kakak sepupu ibuku
yang menegurku. “ Kamu mandul ya Ni, kok dah lama nikah gak hamil hamil juga “
katanya. Aku hanya tersenyum dan menjawab “ Belum dikasih Dhe, “ “ Mosok belum
dikasih, udah lama nikahnya, berarti kamu mandul ….. kamu gabuk “ katanya lagi.
Aku akhirnya menjauh setelah sebelumnya ku cium punggung tangannya sebagai
tanda hormatku kepadanya. Sakit …. Sesak…. Jika saja aku tidak memikirkan
saudara - saudaraku yang lain, ingin rasanya aku kabur , pergi. Tidak hanya
sekali kalimat itu muncul, di pertemuan pertemuan lain pasti akan keluar
kalimat yang menyakitkan itu. Kadang aku marah, marah kepada diriku sendiri.
Kenapa aku tidak seperti perempuan perempuan lainnya, yang menikah langsung hamil
dan punya anak. Kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini. Astghfirullah….
Astaghfirullah.. Bathinku berkecamuk, kenapa aku marah, kenapa aku harus
kecewa, bukankah salah satu tanda keimanan seorang mukmin adalah menerima Qodha
dan Qodhor. Mau aku kemanakan keimanan yang tinggal sedikit didada ini? bathinku bergejolak
“ Hei ….. Bengong aja kerjaannya !” “ Cepetan kalau mau bantuin. “ Tegur Prapti yang
menyadarkannku dari lamunan. Aku buru buru memfokuskan mengetik nama nama
undangan yang akan kami sebar. Aku tersenyum mengingat kembali apa yang aku pikirkan tadi. Kutarik nafas dalam dalam dan kuhembuskan melalui mulut berlahan
lahan. Aku belajar ikhlas ya Rabb bathinku. Kelegaan hadir menjalar didadaku.
Lepas semua gelisah hati. Kupasrahakm semua kepada yang Sang Maha Pemberi.
Pasti aka nada hikmah untuk diri.
By DwimulyaAlfath



2 Komentar:
Masya Allah tulisannya bagus, ini justru menyentuh bagi yg di karuniakan anak utk lbh bersyukur dan tidak mwngeluh krn banyak yg mendambakan apa yg di berikan Allah SWT kepadanya, terima kasih.
Terima kasih juga sudah mau membacanya
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda