Senin, 06 April 2020

SAHABAT


SAHABAT

"Fi, aku perhatikan dari tadi kamu  murung saja, apakah ada yang membebanimu?" Tanyaku pada salah satu sahabatku ini. Buatku, dia sudah lebih dari teman. Bahkan sudah menjadi bagian keluarga. Kalau bisa dibilang, aku malah menganggap dia sebagai keluarga pertamaku dibandingkan dengan keluarga asliku. Aku akan lebih dulu bercerita dengannya dibandingkan dengan keluargaku sendiri. Tak biasanya dia murung, orangnya sangat periang, tak pernah terlihat sedih meski kutahu beban berat yang saat ini harus ditanggungnya.

Setelah lulus kuliah, dia harus menanggung dua adiknya seorang diri. Kalau jadi aku, aduhhhhhh belum tentu mampu. Mencukupi diri sendiri aja masih ngos-ngosan, ini lagi harus merawat adik adiknya. Tapi Fia bukan aku, Dia sangat tegar, mandiri dan tanggung jawab.  Ku tepuk punggungnya, ku rangkul dia. Dan kubisikan bahwa masih ada Alloh yang menjaga kita. Dia makin terguguk, aku jadi bingung. Ku eratkan pelukanku, kubiarkan ia melepaskan semua beban dalam tangisnya.

Kulihat jam tanganku, sudah jam 15.20 Kutepuk pundak nya, kuingatkan, agar kita Ashar berjamaah. Biarkan Alloh yang memberi jalan, bukankah DIA yang memberikan masalah itu pada kita, kataku padanya. Kulihat ketenangan di wajahnya. Sesak didadanya sudah ia tumpahkan ke Sang Maha Pencipta. Jika sudah waktunya, pasti dia akan cerita padaku. Aku yakin itu.

2 Komentar:

Pada 7 April 2020 pukul 06.08 , Blogger Ditta Widya Utami mengatakan...

Waaaah bisa jadi novel nih Bu...

 
Pada 7 April 2020 pukul 18.20 , Blogger YUYUN DWI MULYA mengatakan...

Amiin ..........masak sieh ...... jadi gimana gitu...... semoga bisa dituliskan..... sekarang nyicil nyicil saja, sambil mengingat ingat kembali.

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda