KENANGAN YANG TERSISA DENGAN ALMARHUM AYAH
KENANGAN YANG TERSISA DENGAN ALMARHUM AYAH
Masih terbayang dibenakku, saat kau
gendong aku dengan alas kaki seadanya, berjalan menapaki rel kereta, menuju
kota berharap dapat berjumpa dengan mantri kesehatan. Tubuhku penuh dengan
cacar atau entah apa namanya, akupun tak tahu, jijik orang jika melihat sekujur
tubuhku, selain itu bau amis akan tercium jika terlalu dekat berada
disekitarku. Bagimu aku tetaplah anakmu, tak peduli jijiknya orang melihatku,
namun kau tetap merawatku, sendiri. Ya sendiri, karena ayahku telah pergi
meninggalkan kami, aku yang saat itu baru berusia 4 tahun dan kakakku yang berusia 6 tahun
harus menjadi yatim. Diusiaku yang baru 4 tahun kurang, tidak banyak memori
yang tersimpan dikepalaku tentang ayahku. Satu satunya memori yang masih
membekas sampai saat ini hanya ada satu. Ya hanya satu…
Waktu itu, kami berada di teras rumah,
duduk di dipan. Ayahku memetik buah pepaya
yang berada di samping rumah. Ehmmm, buahnya mateng dipohon, sudah terbayang
manisnya. Setelah memetik, disiapkan pisau dan piring untuk mengupas pepaya
tersebut. Dikupasnya, lalu dipotong potong, namun aku perhatikan, ayahku makan
buah pepaya itu bersama dengan bijinya.
“ Yah, kok bijinya dimakan ?” kataku.
“ Nanti kalau numbuh di perut gimana ? “
lanjutku dengan penuh rasa kuatir.
Dengan santainya ayahku menjawab “ Ya
gak apa apa. Nanti kalau numbuh kan, pohonnya ada dikepala jadi pas berbuah
gampang metiknya “.
Aku hanya bengong saja, sambil berkata
:” Ooooooooo, gitu ya yah biar gampang nanti ngambil buahnya “.
Ehmmmm anak umur empat tahun, gak ngerti
aku kalau biji bijian yang kemakan, akan ikut dilumatkan di dalam lambung.
Pikirku asyik juga nanti kalau numbuh dikepala, kan gampang buat ambil buahnya.
Kembali keibuku, dengan kondisiku yang
orang enggan untuk mendekat ibu tetap sabar merawatku, dibuatkan aku ramuan
ntah itu ramuan apa, yang aku ingat hanya ibu memasak air kemudian di masukkan
daun jeruk daun apa lagi aku lupa kemudian, di gunakan untuk memandikanku
dengan ramuan itu. Sampai akhirnya Alhamdulillah akupun sembuh dari penyakit
itu. Rasanya tak akan pernah bisa menggantikan apa yang telah ibu lakukan
terhadapku.
Hingga akhirnya ada yang mau menikah
dengan ibuku, Akupun akhirnya memiliki bapak baru. Bapakku bekerja di Jakarta,
jadi mau tidak mau aku dan kakakku diboyong ke Ibukota juga. Babak baru kehidupanku dimulai
di Jakarta. Tempat yang asing, belum pernah sekalipun aku datang kekota ini.
Aku harus beradaptasi dengan situasi yang baru.
Selamat datang di Jakarta

