GARA GARA SEMANGKUK MIE AYAM
Hari ini, Minggu ke 4, hari ke 27 sejak Work From Home. Kegiatan sehari hari antara dapur, nyiapin makan. Lanjut ke meja darurat, kenapa saya bilang meja darurat. Soalnya itu sebenarnya kardus tempat printer, nah dengan kondisi rumah yang super mini gak mungkin juga beli meja belajar, bakalan tambah sumpek ini rumah. Jadi tidak ada rotan, akarpun jadi. Tak ada meja, karduspun tak apa. Di meja darurat ini, biasanya aku akan meletakkan laptopku.
Alhamdulillah, meskipun kegiatan yang aku jalani terlihat membosankan aku mendapat tawaran ikut pelatihan menulis melalui grup wa yang di koordinir Om Jay. Seneng rasanya karena banyak ilmu ilmu baru yang bisa aku terima. Kita diminta untuk menyempatkan menulis, apapun itu setiap hari.
Kali ini, Om Jay tiba tiba mengirimkan gambar semangkuk mie ayam dengan topingnya yang menggugah selera. Kami para peserta pelatihan menulis online diharapkan dapat menjadikan gambar tersebut menjadi sebuah tulisan. Belum terpfikirkan olehku mau membuat tulisan seperti apa. Apakah aku akan menuliskan bagaimana cara membuat mie ayam atau aku akan menuliskan tentang rasa dari semangkuk mie ayam tersebut.
Pernah sih beberapa tahun yang lalu, mencoba membuka usaha mie ayam di sekitar perumahan Deket rumahku. Awalnya aku mencari tahu proses pembuatan mie lewat channel YouTube ditambah memang aku punya pengalaman membuat bakso. Sebelum me - launching , aku dan suami membuat untuk kita makan sendiri, kita taste rasa. Setelah dirasa oke di lidah kami. Mulailah kami membuka usaha tersebut.
Alhamdulillah Minggu pertama lumayan bagus responnya. Para pembeli merasa cocok dengan rasa mie ayam buatan kami. Setelah masuk dua bulan, pembeli mulai menurun. Aku dan suami berusaha mencari tahu kenapa kok bisa menurun.
Setelah kita analisa, dapat kita pahami kenapa usaha kami tidak berkembang.
- Yang pertama, lokasi tempat kami jualan tidak strategis, kami membuka usaha di depan rumah awalnya dengan harapan kami gk perlu menyewa tempat.
- Perumahan tempat kami tinggal belum terlalu ramai, sehingga meskipun di awal banyak pembeli namun mungkin karena sudah bosan akhirnya pembeli menurun jumlahnya.
- Kami belum bisa memfokuskan diri secara total untuk menggeluti usaha tersebut. Yang punya ide di awal aku dan aku juga yang punya skill ketrampilan membuat dan meyiapkkan sementara aku juga harus tetap bertugas mengajar di sebuah sekolah menengah pertama. Sehingga pikiran terbagi bagi.
Dengan berat hati, akhirnya kamipun tidak melanjutkan usaha tersebut. Namun tetap berharap suatu hari nanti ada kesempatan untuk membuka usaha lagi. Om Jay.... Om Jay... Aku jadi teringat masa lalu gara gara semangkuk mie ayam nieh.



6 Komentar:
Wah padahal saya pingin mencoba mie ayam buatan ibu 😄😄😄
Mantap
Monggo kalau mau main bilang, biar saya siapkan mie ayam buatan saya... he....he.....
Terima kasih bu Edsa, Ibu juga tulisannya mantap mantap.
Jempolan Bu tetap belajar
Hehe siap bun
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda